Senin, 02 Agustus 2010

MUQADIMAH

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, kami dapat membuat Blog Masjid Suranenggala ini. Sebelumnya kami juga merancang semacam bulletin khusus Masjid Jami Nurul Jannah, yang kami beri nama Nenggala News. Blog Masjid Suranenggala yang merupakan pengembangan dari konsep Bulletin Nenggala News ini dimaksudkan sebagai jurnal/ catatan kebudayaan dan keagamaan (Islam) wong Bedulan (Suranenggala).

Akhir-akhir ini kami merasa prihatin dengan imej daerah kita tercinta yang kurang baik (jika tidak boleh dikatakan negatif/ jelek). Sudah banyak media cetak dan elektronik yang memberitakan peristiwa yang kurang baik yang terjadi di desa kita tercinta. Daerah kita diidentikkan dengan tawuran, penodongan,perampokan dan tindak kriminal lainnya. Sehingga ada anggapan bahwa daerah/ desa kita adalah black zona (daerah hitam yang rawan kejahatan).

Dampak dari informasi yang kurang baik tersebut mengakibatkan pihak luar/ orang luar daerah/ desa kita kurang percaya (atau barangkali tidak percaya lagi) dengan orang-orang yang berasal dari daerah/desa kita. Salah satu buktinya banyak para pencari kerja dari daerah/ desa kita yang mengalami kesulitan dalam melamar pekerjaan. Kita juga dipersulit kalau mau kredit motor atau pinjam uang dilembaga finance.

Benarkah daerah Bedulan/ Suranenggala begitu adanya? Sudah berimbangkah informasi yang diekspos oleh media cetak dan media elektronik tersebut?
Padahal daerah Bedulan/ Suranenggala bukan hanya bisa tawuran atau penodongan/ perampokan saja. Aktivitas keagamaan juga cukup marak. Bahkan bisa dikatakan tawuran dan penodongan bukan budaya masyarakat bedulan/ suranenggala, tapi sebagai efek dari pengangguran yang merupakan permasalahan yang sulit dipecahkan.

Maka untuk mengimbangi informasi negatif yang sudah terlanjur menyebar tersebut, kami membuat media yang bisa dibaca dan diakses oleh setiap orang di seluruh dunia melalui dunia internet. Semoga dengan adanya blog masjid suranenggala ini bisa memperbaiki dan mengangkat citra masyarakat bedulan yang positif ke suluruh dunia.

Sebagai jurnal/ catatan kebudayaan dan keagamaan (Islam) wong Bedulan/ Suranenggala ini, kami berharap kehadiran blog Desa Suranenggala bisa membawa kemaslahatan bagi kaum muslim Desa Suranenggala pada khususnya dan wong Bedulan/ Suranenggala pada umumnya.

Kami juga mengharapkan dukungan dari semua pihak demi perkembangan blog masjid Suranenggala ini. Anda bisa memberikan komentar dari setiap info yang kami sajikan. saran dan kritik yang bersifat membangun demi kemajuan dan kemaslahatan kaum muslim dan wong Bedulan/ suranenngala sangat kami harapkan. Anda bisa mengirim email ke kami yaitu di : masjidsuranenggala@gmail.com

Untuk mengakses blog suranenggala ini Anda bisa kunjungi http://masjidsuranenggala.blogspot.com.

TKA/TPA BAHRUL ULUM

TARIK TAMBANG. Dua kelompok anak TKA/TPA Bahrul Ulum Desa Suranenggala Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon saling tarik tambang di Obyek Wisata Sunyaragi. Minggu (11/6) lalu. Aneka lomba tersebut berkaitan dengan pembagian raport anak didik. (Surat Kabar dalam rubrik Mitra Dialog, Sabtu-Senin , 24-26 Juni 2000 dalam rubrik Peristiwa dalam Gambar)

BELAJAR TAJWID


BELAJAR TAJWID. Sekitar 200 anak dan remaja mengikuti bimbingan belajar ilmu tajwid di Masjid Nurul Jannah, Desa Suranenggala Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, Minggu (12/3) . (Surat Kabar Mitra Dialog; Selasa, 14 maret 2000 dalam rubrik RW Isun)

MARHABANAN DI NURUL JANNAH

Suranenggala, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Jannah di Desa Suranenggala Kecamatan Kapetakan kabupaten Cirebon melakukan perbaikan beberapa fasilitas masjid diantaranya pemagaran sekitar masjid.

Menurut Pengurus DKM Nurul Jannah, Darkina Indrawijaya, biaya perbaikan masjid diperoleh dari swadaya masyarakat.

Selain pemagaran, dalam waktu dekat pengurus DKM berniat melakukan pengurugan halaman masjid agar terlihat lebih halus. Adapun kegiatan rutin yang dilakukan jamaah yakni marhabanan dan yasinan tiap malam Jum'at serta bimbingan aqidah bagi remaja pada Minggu Pertama dan Minggu Terkhir dalam setiap bulannya. (Surat Kabar Mitra Dialog; Jum'at, 17 Maret 2000 dalam rubrik Dari Masjid ke Masjid)

DKM NURUL JANNAH BANGUN RUANGAN KHUSUS UNTUK ANTISIPASI PENCURIAN

Ba'da sholat subuh amplifier Masjid Jami' Nurul Jannah Desa Suranenggala Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon digondol maling. Tidak ada jejak yang ditinggalkan sehingga sulit dilacak bagaimana dan ke mana pencuri tersebut beraksi.

"Jama'ah sholat subuh tidak menyangka peristiwa tersebut, karena biasanya sehabis sholat subuh amplifier masjid yang biasanya ditaruh di dekat mimbar aman-aman saja," demikian ungkap imam masjid sholat subuh , Haji Dukisa.

Diduga pencuri tersebut telah lama mengamati dan mengawasi barang masjid yang akan diambilnya. Di saat orang lain lengah pencuri melakukan aksinya.

Sejak dibangunnya Masjid Jami Nurul Jannah Desa Suranenggala hingga bulan Februari 2006, kasus pencurian di Masjid Nurul Jannah sudah tiga kali. Oleh karenanya untuk mengantisipasi kejadian serupa Pengurus DKM Nurul Jannah membangun ruangan khusus. "Ruangan ini nanti akan kami fungsikan sebagai tempat menyimpan amplifier, muadzin dan tempat penyimpanan arsip-arip DKM," kata Ketua DKM Nurul Jannah, Adeng Tasidi.

Pembangunan ruangan khusus yang letaknya disamping tempat pengimaman dan berukuran satu kali setu setengah meter ini dananya diambil dari kas DKM Nurul Jannah.

"Kita doakan agar pencuri segera bertobat dan tidak mengualngi perbuatannya. karena mencuri barang masjid itu dosanya lebih besar bahkan mungkin sampai tujuh turunan," ujar mantan Kaur Kesra Desa Suranenggalah, Lebeh Abu Hanifah. (Darkina Indrawijaya)

MENGENAL LEBIH DEKAT DAERAH BEDULAN LEWAT SEJARAHNYA

Hingga kini masih banyak masyarakat yang menganggap daerah Bedulan identik dengan black zone (daerah hitam yang rawan kejahatan). Padahal sesungguhnya daerah yang asal namanya diambil dari nama pendirinya, Nyi Mas Baduran (oleh orang Belanda karena lidahnya cadel disebut Bedulan) itu masyarakatnya juga agamis. memang tidak dipungkiri bahwa di daerah yang terdiri dari empat desa ini ada juga warganya yang bersikap amoral. tapi itu hanya beberapa saja, sama seperti daerah lainnya. bukankah kejahatan itu ada di mana-mana? Dan sudah menjadi hukum alam, setiap ada kebaikan pasti ada kemunkaran. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Nama Bedulan atau sering juga disebut Suranenggala mengandung makna berani karena senjata. kata Suranenggala berasal dari dua kata, yaitu Sura yang berarti berani dan nenggala yang artinya senjata. Jadi Suranenggala berarti wani ing dalem gegaman ( berani karena didasari senjata). Karena pendiri dan warga Bedulan / Suranenggala ini muslim maka sebagai muslim senjatanya adalah Doa, jadi sebenarnya masayarakat Suranenggala/ Bedulan itu harus berani karena punya senjata do'a. Bukankah senjata hidup muslim yang paling ampuh itu adalah do'a. namun ada beberapa warga Suranenggala yang masih salah menafsirkan arti Suranenggala itu. Di benak mereka senjata adalah clurit, parang dan senjata tajam lainnya.

Daerah Suranenggala/ Bedulan yang meliputi Desa Suranenggala, Desa Suranenggala Lor, Desa Suranenggala Kidul dan Desa Suranenggala Kulon ini didirikan oleh sepasang suami istri murid Mbah Kuwuh Cerbon. Kedua insan ini adalah Nyi Mas baduran dan Ki Gede Suranenggala.

Sebelum Ki Gede Suranenggala mempersunting Nyi Mas Baduran, Ki Gede Suranenggala harus berjuang memperebutkannya dalam sayembara adu jurit/ adu tanding dengan kesaktian melawan Nyi Mas Baduran yang selain cantik rupanya juga punya kesaktian. Sudah menjadi tradisi wong Cerbon zaman dulu, bila ada wanoja/ wanita cantik dan sakti yang akan dinikahkan, maka calon suaminya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dahulu.

Karena Nyi Mas Baduran adalah salah satu muridnya yang sakti dan berparas rupawan, maka Mbah Kuwu Cerbon menggelar sayembara aduh kesaktian tersebut. Dari sekian banyak gegeden/ Ki Gede yang mengikuti sayembara, hanya Ki Gede Suranenggala yang mampu mengalahkan kesaktian Nyi Mas Baduran. tentu saja setelah melalui perang tanding yang seruh dan memakan waktu lama.

Setelah resmi dinikahkan oleh Mbah Kuwu Cerbon, nyi Mas Baduran dibawa/ diboyong oleh suaminya ke pedukuhan yang terletak di sebelah utara Pedukuhan Celancang. Dari hasil pernikahannya tyersebut, Nyi Mas Baduran dan Ki Gede Suranenggala dikarunai seorang putri yang bernama Dewi Pulunggana.

Sama seperti ibunya, Dewi Pulunggana, selain berwajah cantik juga terkenal pilih tanding dan diksura (sakti mandraguna). Kesaktian Dewi Pulunggana ini pernah dimanfaatkan untuk menyelamatkan rakyat Pedukuhan Cirebon dari penggebuk/ bencana penyakit yang dilancarkan oleh seorang gegeden asal Pedukuhan jungbang, yang bernama Ki Saraglanang. Ki Saraglanang tidak senang akan syiar Islam di pedukuhannya. peristiwa ini terjadi ketika Pedukuhan Cerbon belum genap sewindu menjadi kesultanan Cerbon. banyak penduduk Kesultanan Cerbon yang ,meninggal dunia akibat wabah penyakit yang mematikan itu.

Untuk menghentikan perbuatan Ki Saraglanang ini, Kanjeng Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Kesultanan Cerbon segera mengutus Dewi Pulunggana untuk menaklukakkannya.

Setelah dinasehati secara baik-baik agar menghentikan perbuatannya yang menyusahkan rakyat banyak itu tidak diacuhkan oleh Ki Saraglanang, maka jalan terakhir yang ditempuh Dewi Pulunggana adalah adu Kesakten. Di akhir pertarungan tersebut, Ki Saraglanang dapat dilumpuhkan dan masyarakat Cerbon pun kembali sehat seperti sedia kala.

Sebagai wanita cantik, tentu saja banyak lelaki atau Ki Gede yang berhasrat mempersunting dirinya sebagai istri. Dewi Pulunggana mau mengakhiri masa lajangnya apabila para gegeden sanggup memenuhi persyaratan yang diajukannya. Calon suaminya itu harus bisa menanam pohon beringin sebelum sehari sudah berbuah. Memang banyak Ki Gede yang kepincut dengan kecantikan Dewi Pulunggana mencoba menjajalnya, tapi tak satu pun yang berhasil. Kecuali seorang pemuda yang bernama Raden Johar.

Dengan disaksikan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati dan para gegeden Raden johar berhasil menanam pohon beringin yang sebelum sehari sudah berbuah. Karena penasaran dengan kesaktian Raden Johar, Dewi Pulunggana menantangnya beradu tanding. Ternyata Dewi Pulunggana harus mengakui kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Raden Johar. Dewi Pulunggana pun bersedia jadi pendamping hidup Raden Johar. Pernikahan kedua insan yang sama-sama sakti dan telah terpikat tali tresno ini dilaksanakan di Keraton Kesultanan Cerbon. Setelah resmi menikah dengan Dewi Pulunggana, Raden Johar diangkat menjadi Patih Agung Kesultanan Cerbon oleh Kanjeng Sunan Gunung jati yang kemudian bergelar Ki Pati Waringin.

Kini makan Ki Patih Waringin dapat kita jumpai di Desa Suranenggala Kidul Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon, sedangkan nama Ki Gede Suranenggala diabadikan oleh warga setempat menjadi nama desanya (Darkina Indrawijaya)

ARAK-ARAKAN MUSHOLLAH NURUL IMAN

Siang itu, Surya redup yang berselimut awan seakan turut larut dalam alunan shalawat nariyah dari serombongan kaum muslimin Desa Suranenggala Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon.

Ada apa gerangan?
Mushollah Nurul Iman yang merupakan awal pembangunan/ bangunan pertama mushollah setelah pemekaran Desa Suranenggala, telah mencapai suatu titik dari tahap-tahap rehabilitasi/ pemugaran, yaitu salah satu implementasi gerakan kultural, atau kita sebut "arak-arakan memoloh."

Arak-arakan memoloh yang dilaksanakan pada hari Rabu di bulan Juni 1997 ini menempuh rute : Desa Suranenggala - Dusun Nenggala Sari - perbatasan Desa Suranenggala & Desa Suranenggala Lor - Dusun Nenggala Indah - perbatasan Desa Suranenggala & Desa Suranenggala Lor - Dusun Nenggala Ayu - perbatasan Desa Suranenggala & Desa Kertasura - Dusun Nenggala Ayu - Dusun Nenggala Mekar - Dusun Nenggala Indah/ Dusun Nenggala Mekar - Dusun Nenggala Mekar - perbatasan Desa Suranenggala & Desa Kertasura - Dusun Nenggala Mekar - Dusun Nenggala Sari.

Setiap wilayah yang dikelilingi arak-arakan memoloh ini, banyak warga sekitar yang turut memberikan sumbangsih dalam bentuk uang dan beras. Arak-arakan memoloh Mushollah Nurul Iman yang berlangsung dari pukul 14.00 sampai 15.50 WIB ini menghasilkan uang sebesar Rp 650.000,- dan beras 90 kg.

Sekitar 150 muslim Desa Suranenggala yang mengarak memoloh Mushollah Nurul Iman ini. Dari orang tua, pemuda dan remaja sampai anak-anak bersuka cita mengarak memoloh Mushollah Nurul Iman. ini merupakan ekspresi rasa antusias dan bentuk syukur warga muslim Desa Suranenggala, khususnya warga Dusun Nenggala Sari akan adanya tempat ibadah di tempatnya.

Prosesi arak-arakan memoloh Mushollah Nurul Iman mencapai puncaknya ketika pada pukul 17.00 memoloh Mushollah Nurul Iman dipasang ditempatnya.

Renovaasi/ pemugaran Mushollah Nurul Iman dimulai pada 1 Muharram 1418H (penghancuran bangunan) dan pembukaan teki/ pemasangan pondasi pada tanggal 8 Muharam 1418 hijriyah.

Peresminan renovasi mushollah nurul iman yang telah mencapai 70 % dilakukan oleh Kepala desa suranenggala, bapak Nurjanah pada malam sabtu, tanggal 18 Juli 1997 berbarengan dengan pengajian umum peringatan maulin nabi Muhammad SAW 1418Hijriyah.

"Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak/ Ibu, kaum muslimin dan muslimat Desa Suranenggala atas partisipasi dan sadakoh jariyahnya. Semoga amal Bapak/ Ibu/ Saudara diterima disisi Allah SWT. Panitia hanya punya bilangan, Tapi Allah SWT yang berhak untuk membalas segala amal baik Bapak/ Ibu/ Saudara."

"Kami tidak melihat besarnya sumbangan/ sodaqoh , tapi kami yang syukuri adalah nilai kepedulian Bapak/ Ibu/ Saudara akan bangunan/ kelangsungan tempat ibadah kita ini. Semoga rasa peduli ini dapat kita pelihara dan kita miliki selamanya. Amin